Bukan Sekadar Tugas Kuliah: dari Ruang Kelas menuju Panggung Penghargaan

Sumber gambar: istimewa

Bagi sebagian mahasiswa, tugas kuliah sering kali berakhir di meja dosen atau folder arsip digital. Namun tidak demikian bagi sekelompok mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Pontianak. Dari ruang kelas, sebuah karya lahir, tumbuh, dan akhirnya berdiri percaya diri di panggung penghargaan. Hal tersebut membuktikan bahwa proses belajar bisa melampaui sekadar nilai akademik.

Festival Film Pelajar Khatulistiwa (FFPK) ke-6 kembali sukses digelar dan menjadi panggung apresiasi terbesar bagi karya sinema pelajar di Kalimantan Barat. Awarding FFPK berlangsung meriah di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, pada Kamis malam (11/12/2025). Malam itu, sorotan lampu, tepuk tangan, dan rasa bangga berpadu dalam satu ruang yang sama.

Digelar secara konsisten setiap tahun, Festival Film Pelajar Khatulistiwa (FFPK) terus menjaga perannya sebagai ruang tumbuh kreativitas pelajar melalui medium film. Pada penyelenggaraan 2025, gaung FFPK terasa makin luas karena tak hanya melibatkan peserta dari Kalimantan Barat, tetapi juga menarik minat pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran peserta lintas wilayah ini menjadi penanda bahwa FFPK kian dikenal dan mulai menempatkan diri sebagai salah satu festival film pelajar yang diperhitungkan di tingkat nasional.

Di tengah ketatnya persaingan, mahasiswa Prodi KPI IAIN Pontianak tampil mencuri perhatian. Lewat sebuah film dokumenter, mereka berhasil memborong sejumlah penghargaan sekaligus. Suatu prestasi yang tidak datang secara instan, melainkan lahir dari proses panjang, diskusi, revisi, dan keberanian bercerita.

Produser film, Ahmad Syarif Ramadhani, mengungkapkan bahwa timnya berhasil meraih juara 1 kategori poster terbaik tingkat perguruan tinggi, juara 2 film terbaik tingkat perguruan tinggi, juara 3 skenario terbaik tingkat perguruan tinggi, juara 3 penyutradaraan terbaik, serta juara 3 sinematografi terbaik. Seluruh penghargaan tersebut diraih melalui satu karya yang sama, sebuah film dokumenter berjudul Listening in the Dark.

Poster film Listening in the Dark (sumber gambar: Istimewa)

Film ini mengangkat kisah Muslimin, seorang seniman asal Singkawang yang memiliki keterbatasan pada penglihatannya. Namun keterbatasan itu tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Ahmad Syarif menuturkan, film ini bercerita tentang keteguhan Muslimin dalam berkesenian, sekaligus tentang sikapnya menghadapi pandangan rendah dan perundungan dari orang-orang di sekitarnya. Alih-alih tenggelam dalam stigma, Muslimin justru membuktikan dirinya lewat karya dan menjawab keraguan dengan prestasi.

Prestasi mahasiswa KPI IAIN Pontianak ini menjadi bukti bahwa ruang kelas bukanlah batas akhir proses belajar. Ketika tugas dikerjakan dengan kesungguhan dan keberanian untuk bercerita, karya tersebut bisa melangkah lebih jauh, menjadi inspirasi, membuka ruang apresiasi, dan berdiri tegak di panggung penghargaan. Bukan sekadar tugas kuliah, tetapi perjalanan menuju prestasi yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *